Alt text
Pameran Temporer Museum Sonobudoyo 2017

     Perbincangan mengenai perempuan kini masif kembali. Perempuan kerap didefinisikan sebagai produk inferior dari budaya feodal. Kedudukanya pun kerap disalah-artikan sebagai pelengkap dari kaum adam. Konsekuensi yang diterima adalah perempuan di tempatkan pada ruang-ruang sempit. Perempuan sulit berbicara, perempuan dikerdilkan pengetahuannya, hingga perempuan terbatas atas hak-haknya. Perempuan demikian yang kemudian disebut terjajah oleh budayanya.

     Perjalanan pandangan mengenai perempuan lantas mulai berubah. Budaya tidak berarti lagi sebagai alat untuk memasung ruang geraknya. Tidak ada upaya pengerdilan hak dan pengetahuannya. Batasan atara perempuan dan laki-laki pun mulai mengabu-abu. Kini perempuan berada pada bagian yang setara. Perempuan ini adalah mereka yang merdeka pada setiap langkahnya.“Menjadi perempuan adalah proyek untuk terus menjadi dan menghasilkan sesuatu dari dirinya/tubuhnya/situasinya,”(Greg Wuryanto-Kurator)

      Kontradiksi budaya inilah yang lantas membawa perempuan sebagai ruh dalam pameran. Seperti halnya mitologi durga yang menjadi metafora perempuan ideal. Perempuan sebagai perpaduan atara saumya sekaligus kroda pada kondisi tertentu (DS Nugrahani). Selanjutnya, dengan mengusung tema Pengilon: Kisah Perempuan dalam Silang Budaya, diskusi mengenai perempuan diwujudkan dalam koleksi-koleksi yang ada, seperti halnya darpana, padupan ratus vagina, sumbul, hingga berbagai peralatan yang bersifat keperempuanan.

     Pameran Pengilon: Kisah Perempuan dalam Silang Budaya ini akan dibuka pada tanggal 5 Desember 2017 dan berlangsung hingga 15 Desember 2017. G.K.R. Mangkubumi dan G.K.R.B.A.A. Paku Alam turut terlibat langsung pada acara pembukaan. Keduanya akan bersama-sama membuka pameran sekaligus menjadi representasi dari tokoh perempuan di masa sekarang.

     Perjalan selama pameranpun didukung pula dengan kegiatan-kegiatan yang bertema keperempuanan, diantaranya: (1) workshop tari meditatif bertajuk sadyotkrãnti (8/12), (2) merajut (10/12), dan (3) berkain nusantara dengan tajuk mawastra (12/12). Tidak terlupa kegiatan bincang kurator yang akan diadakan 2 kali, 9/12 dan 11/12 sebagai upaya membangun wacana kesetaraan perempuan berdasarkan koleksi yang dipamerkan.

     Pada akhirnya, pameran ini merupakan ajang bagi para perempuan untuk mendefinisikan kembali keperempuanannya, menafsirkan seluas-luasnya peranannya, hingga memandang ke dalam dirinya untuk dapat berkiprah. Perempuan adalah sakti, perempuan adalah akumulasi dari sistem pendidik atas generasinya! Kamu perempuan, maka kamulah yang punya cara!