Pagelaran WACINWA Pertama Kali dalam Rangka Peringatan Pekan Budaya Tionghoa

Pagelaran WACINWA Pertama Kali dalam Rangka Peringatan Pekan Budaya Tionghoa

Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) ke 10 tahun 2015 resmi ditutup oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Kamis malam (5/3/2015). Setelah upacara penutupan dilanjutkan dengan pagelaran Wayang Cina Jawa  (Wacinwa) dengan lakon Sie Jin Kwi yang ditampilkan oleh dalang Aneng Kriswantoro.Wayang Cina Jawa (Wacinwa) merupakan sebuah warisan budaya dunia dan peninggalan bersejarah yang sangat penting bagi bangsa ini. Wacinwa merupakan ciptaan Gan Thwan Sing pada tahun 1925 di Yogyakarta, penuturannya berbahasa Jawa dan diiringi gamelan Jawa, sedangkan wayangnya dibuat dari bahan kulit kerbau. Kisahnya diangkat dari mitos dan legenda Tiongkok, misalnya Si Djien Koei yang disadur ke dalam lakon ketoprak Joko Sudiro. Buku lakon tersebut ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa.


Di dalam pidatonya Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan apreasiasi yang tinggi atas penyelenggaraan PBTY ke-10 tahun ini, yang memiliki nilai lebih tinggi daripada yang lampau dengan banyaknya eksperimentasi kolaborasi dan perpaduan kesenian Tionghoa dan Jawa.Beliau juga mengajak masyarakat, khususnya masyarakat Tionghoa, dan Pemerintah Daerah untuk memboyong kembali Wacinwa dan naskahnya tersebut dari Jerman, karena Wacinwa itu berasal dari Yogyakarta.


Pada saat ini tinggal satu set wayang dan satu naskah lakon yang tersimpan di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, satu set wayang dan 39 naskah di perpustakaan Berlin, Jerman dan satu set wayang lagi ada di Uberlingen (Bodensee, Jerman) yang dimiliki Dr. Walter Angst.

Artikel Terkait

Lebih Banyak